Valentine Day 14 Februari, Mencari Makna Kasih Sayang Sejati

Valentine-daySUDAH menjadi tradisi di kalangan muda, bahkan banyak juga dari kalangan tua, yang merayakan 14 Februari sebagai hari kasih sayang dunia. Namun tak jarang dari mereka justru tak mengerti mengapa dan ada apa sesungguhnya sehingga 14 Februari itu diperingati sebagai hari Kasih Sayang se-Dunia. Ironisnya, momentum yang seharusnya lebih dekat pada upaya mendorong semangat keimanan dalam agama, sekarang telah berubah menjadi ajang yang kerap jauh dari nilai-nilai agama. Valentine day (VD) ditradisikan sebagai sebuah hari di mana pergaulan bebas dan foya-foya dilakukan atas nama kasih sayang. Bahkan, para ABG (Anak Baru Gede) di Indonesia, umumnya di kota-kota besar, kerap banyak yang beranggapan bahwa momentum ini adalah sebuah kesempatan untuk bersenang-senang belaka.

* * *

MENURUT catatan sejarah, Valentine atau Valentinus sebenarnya adalah nama seorang Martyr, yakni seorang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya (The Standart International Dictionary, XVIII, p. 5090). Karena kegigihan Valentinus mempertahankan ajaran agamanya, maka ia diberi gelar Saint atau Santo (St) –gelar tersebut mempunyai tempat istimewa di dalam ajaran agama Kristen. St Valentin menentang Kaisar Claudius II –rezim Romawi saat itu–, dan akhirnya dihukum dan dibunuh pada abad ketiga (14 Februari 270 Masehi). Karenanya kemudian Valentine ini lantas dijadikan simbol bagi ketabahan, keberanian, kesungguhan dan kepasrahan seorang Kristen menghadapi realitas hidupnya. Namanya sampai sekarang dipuja dan diagungkan dan hari kematiannya diperingati oleh para pengikutnya dalam setiap upacara atau seremoni agama yang dianggap sesuai dengan peristiwa tragis itu.

Perlu diketahui bahwa Romawi pernah diperintah oleh Kaisar Claudius II, Kaisar kejam yang membatalkan semua pertunangan dan perkawinan di Romawi demi kebesaran kekuatan militernya. Saat itu, Santo Valentine, yang seorang pastor, bersama dengan Santo Marius dan para Martir Kristiani lainnya menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi. Saat Kaisar tahu, maka Santo Valentine dihukum secara kejam, mereka dipukul dengan tongkat sampai mati dan dipenggal kepalanya. Hukuman ini terjadi pada tanggal 14 Februari ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia (Supercalia). Jadi, untuk mengenang jasa dan pengorbanan Santo Valentine serta menghormati tradisi rakyat, para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Sehingga sampai sekarang, hari tersebut dikenal sebagai Hari Valentine.

Pada catatan yang lain, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno di masyarakat Romawi kuno. Juno adalah ratu para Dewa dan Dewi Romawi. Dia juga dikenal sebagai Dewi Para Perempuan dan Perkawinan. Hari berikutnya, 15 Februari, adalah festival Lupercalia. Festival itu ditandai dengan sebuah kegiatan yang cukup menonjol, yakni acara penarikan nama. Pada malam sebelum festival, nama-nama dari gadis-gadis Romawi ditulis pada secarik kertas dan dimasukkan ke dalam wadah. Para pemuda itu nantinya akan mengambil secarik kertas dan menjadi pasangan selama festival dengan gadis yang namanya terpilih. Sering kemudian pasangan antar muda-mudi yang didapatkan dalam festival tersebut kemudian saling jatuh cinta dan pada akhirnya mereka pun menikah. Festival ‘mencari jodoh’ ini akhirnya berkembang sampai sekarang, dan menjadi acara yang paling menonjol dalam memperingati VD. Sehingga, yang ada bukan memetik pelajaran dan refleksi tentang kematian sang Valentin itu sendiri melawan sebuah kekuasaan yang menindas rakyatnya.

***

TRADISI kepercayaan ini kemudian berkembang menjadi pemahaman umum bahwa sebaiknya para pemuda mencari seorang pemudi untuk menjadikan pasangannya dan sebaliknya, pada 14 Februari itu pula. Bersamaan dengan itu pula, mereka menyarankan untuk saling tukar tanda mata atau cadeau (kado) sebagai lambang terbinanya kasih sayang di antara mereka. Sedangkan Valentine ini sendiri lebih dipopulerkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama setelah berakhirnya Perang Dunia I (The Encyclopedia Americana, XXVII. p. 859).

Bahkan selama abad pertengahan, ada kebiasaan populer yang dilakukan pada tanggal 14 Februari di mana burung-burung mulai berpasangan. Kebiasaan tersebut adalah menulis surat cinta kepada kekasih dan mengirimkan benda-benda ungkapan kasih sayang. Hal ini menjadi lebih populer sekitar abad 14 dan 15, suatu situasi di mana kesusastraan Inggris dan Perancis memeringatinya sebagai Hari Valentine.

Demikianlah lama kelamaan nama dari seorang yang bergelar Santo Valentine itu jauh bergeser dari sejarahnya. Orang yang memperingati hari ini, hanya akan menyebut namanya lewat greeting card, pesta persaudaraan, tukar tanda mata, tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang berumur lebih dari 1700 tahun yang lalu itu. Padahal sebenarnya di dalamnya banyak terkandung peristiwa memilukan perlawanan dan pengorbanan seorang pastor untuk membela hak-hak masyarakatnya. Di dalamnya tentu menyimpan sebuah proses perjuangan yang sangat hebat, apalagi dilakukan oleh seorang pemuka agama.

* * *

APA yang terjadi sekarang sekiranya memerlukan refleksi secara serius dan universal. Mengingat VD tidak hanya dirayakan oleh satu pemeluk agama tertentu saja, melainkan hampir sudah bersifat umum. VD menjadi sebuah trend di kalangan muda-mudi yang memadu kasih.

Bagi siapa saja yang berniat merayakan atau memperingati setidaknya bisa memaknainya lebih jauh lagi. Tidak hanya sebatas pada memadu kasih antarlawan jenis, tapi juga bisa ditingkatkan menjadi antarsuku, antaretnis, antaragama, antarkebudayaan dan sebagainya. Pemaknaan yang demikian bersifat mengembalikan dan mendefinisikan secara sebenar-benarnya dalam memperingati kematian pastor Valentin itu. Pemaknaan yang demikian juga bisa meningkatkan rasa persaudaraan di Indonesia di mana peperangan dan perseteruan menjadi momok yang paling seru di era reformasi ini.

Universalitas makna kasih sayang juga perlu ditingkatkan, bukan hanya untuk keperluan agama yang bersangkutan, melainkan juga untuk agama lain. Dengan demikian hubungan antaragama pun akan berjalan harmonis dan memiliki tenggang rasa yang tinggi.

Pemaknaaan kembali VD ini penting mengingat pluralitas agama, suku dan etnis di Indonesia sangatlah beragam. Jika hanya dimaknai menurut kepercayaan agama tertentu, sementara para pemeluk agama lain sudah terlanjur mempercayainya sebagai hari kasih sayang dunia, hal ini tentu merupakan egoisme suatu agama tersebut. Lebih-lebih, VD tidaklah menyangkut aqidah atau keimanan pada Tuhan untuk sebuah agama tertentu. Akan tetapi merupakan suatu bentuk peristiwa dunia yang patut mendapatkan perhatian dari sebuah rasa yang disebut sebagai: kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda